Jumat, 03 Mei 2013

DIA SAHABAT SEJATIKU


              Sahabatku yang jauh dari diriku. Jauh karena memang jarak memisahkan kami di antara dua benua.  Benua dimana kami tinggal, satu tinggal di Asia dan yang lain tinggal di Amerika.  Namun, persahabatan yang telah terjalin ini tak pernah punah di kekang oleh angin, air, maupun waktu. Telah hampir 30 tahun kami berpisah, kami hanya bertemu dalam dunia surel dan hanya dua atau tiga kali kami bertemu muka dengan muka.

                Jalinan pertama kali persahabatan kami adalah ketika aku bertemu dengan Sarah di kantor. Kami sekantor tetapi tak satu bagian.  Kami berlainan divisi.  Tetapi sejak saat pertama kali bertemu, hati ,perasaan dan pemikiran kami telah menyatu dalam satu kata, inilah sahabatku  dalam suka dan duka.
  
                Bukan kuantitas pertemuan yang kami pentingkan. Kami jarang bertemu , hanya di kantor. Itupun karena waktu terbatas karena masing-masing harus bekerja.  Entah bagaimana, rumah sahabatku ini dekat atau bertetangga denganku. Seolah telah diatur, kami, menghabisakan hari  Sabtu pagi atau minggu siang, ngobrol sebentar soal anak, keluarga atau pekerjaan.

                Saat itu kualitasnya seorang sahabat belum begitu kentara karena kami masih dengan kesibukan  kami sebagai ibu dan pegawai yang memiliki  rasa tanggung jawab masing-masing.

                Tetapi waktu berjalan sangat cepat, kami harus berpisah.  Sahabatku harus pindah dan meninggalkan diriku , jauh ke luar negeri,  paman Sam.
 
                Ketika kami dekat bertetangga, hubungan kami seperti datar tanpa kedekatan emosi. Namun, ketika kami berjauhan, hati kami semakin dekat.  Pada saat tertentu seakan kami makin tak mau lewatkan tanpa  dirinya.  Begitupun dengan sahabatku.

                Kuingat benar, ketika sahabatku meninggalkan ibunya sendiri dengan pembatu.  Ibunya yang telah tua harus melakukan kegiataan sehari-hari bersama dengan pembantu. Tanpa bantuan orang lain.  Phisiknya yang makin lemah menyebabkan, ketergantungan kepada orang yang dapat merawat atau melihat kondisi kesehatannya.  Akulah, yang sering datang ke rumahnya.  Kulihat dan kuberikan bantuan seperlunya dan kuberi tahukan kepada sahabatku apa yang terjadi dengan ibunya.

                Namun, suatu hari ketika  kelemahan phisiknya sangat mengkuatirkan.  Aku segera menelpon dirinya.   Sarah segera menelpon kakaknya yang berada di luar kota untuk segera datang ke rumah ibunya dan memberikan pertolongan secepatnya.  Ternyata, ketika dokter datang, ibunya harus langsung dibawa ke rumah sakit.  Dalam kondisi kritis, berkali-kali sahabatku menyatakan kekuatiran dan ketakutan kehilangan ibunya. Aku selalu menghiburnya. Jika ada sesuatu yang sangat emergency, pasti aku akan tetap mendampingi ibunya.  Dia tak perlu kuatir dan takut.
 
                Nada suaranya sangat penuh penyesalan ketika akhirnya ibunya meninggal. Tanpa bisa menghadiri pemakaman karena waktunya yang tak cukup.  Sarah, sering menyesali apa yang tak bisa dilakukakannya untuk ibunya tercinta.   Aku selalu mengatakan kepadanya, tak seharusnya dia menyesali karena waktu ibunya berpulang adalah waktu yang telah ditentukan oleh PenciptaNya. Tak perlu menyesali diri karena tak bisa hadir .  Waktu dan ijin yang tak memungkinkan, bukan karena ia tak mau .   Berkali-kali kukatakan kepadanya tak perlu ada penyesalan. Bukan kesalahannya maupun kemauannya untuk tak hadir.

                Peristiwa itu makin membuat hubungan kami sebagai sahabat makin dekat.  Kedekatan hati kami untuk saling mengisi dan memberikan kekuataan ketika salah satu dari kami sedang lemah. Kami tak pernah saling menuding kesalahan kami ketika kami tahu sebenarya ada hal yang salah dalam menentukan sikap dan langkah kami.  Kami saling memberikan doa dan kekuataan dan berbagi pengalaman hidup jika ada sesuatu yang sangat menyakitkan terjadi pada kami.

                Sakit hati  atas tidak menerimanya kenyataan hidup bagaikan hal yang sangat menyakitkan bagi sahabatku.   Sahabatku, menganggap kesalahan itu pada dirinya. Sebenarnya bukan total kesalahan pribadinya tetapi  karena perubahan nilai dan budaya ,kultur yang tak dipahaminya.  Kesalahan akan dirinya selalu menghantui dirinya.  Membuat phisiknya melemah. Akhirnya, dia menderita berbagai macam penyakit.

                Dalam kelemahan phisik, saya selaku sahabat tak pernah meninggalkannya. Kuberikan apa yang tak pernah kualami, tetapi apa yang kupelajari . Tak boleh menyalahkan diri terus menerus. Bangkit dari keterpurukan adalah jalan keluar.  Doa untuk sahabatku selalu kulayangkan.

                Inilah arti seorang sahabat. Ketika aku juga terpuruk dalam pemikiran yang tak menentu. Aku akan datang kepadanya. Memohon agar dia dapat membantuku memberi kekuataan dalam spirit dan dukungan.  Ternyata ini dapat dibuktikan arti seorang sahabat.

                Bagiku seorang sahabat adalah seorang yang teruji dalam duka bukan hanya dalam suka saja. Dia penolong dan pendukung dan orang yang terbuka memberikan dukungan ketika kita dalam kesulitan.

                Marilah kita mencari  ,menemukan dan menjadi sahabat-sahabatsejati!


Read More
              Sahabatku yang jauh dari diriku. Jauh karena memang jarak memisahkan kami di antara dua benua.  Benua dimana kami tinggal, satu tinggal di Asia dan yang lain tinggal di Amerika.  Namun, persahabatan yang telah terjalin ini tak pernah punah di kekang oleh angin, air, maupun waktu. Telah hampir 30 tahun kami berpisah, kami hanya bertemu dalam dunia surel dan hanya dua atau tiga kali kami bertemu muka dengan muka.

                Jalinan pertama kali persahabatan kami adalah ketika aku bertemu dengan Sarah di kantor. Kami sekantor tetapi tak satu bagian.  Kami berlainan divisi.  Tetapi sejak saat pertama kali bertemu, hati ,perasaan dan pemikiran kami telah menyatu dalam satu kata, inilah sahabatku  dalam suka dan duka.
  
                Bukan kuantitas pertemuan yang kami pentingkan. Kami jarang bertemu , hanya di kantor. Itupun karena waktu terbatas karena masing-masing harus bekerja.  Entah bagaimana, rumah sahabatku ini dekat atau bertetangga denganku. Seolah telah diatur, kami, menghabisakan hari  Sabtu pagi atau minggu siang, ngobrol sebentar soal anak, keluarga atau pekerjaan.

                Saat itu kualitasnya seorang sahabat belum begitu kentara karena kami masih dengan kesibukan  kami sebagai ibu dan pegawai yang memiliki  rasa tanggung jawab masing-masing.

                Tetapi waktu berjalan sangat cepat, kami harus berpisah.  Sahabatku harus pindah dan meninggalkan diriku , jauh ke luar negeri,  paman Sam.
 
                Ketika kami dekat bertetangga, hubungan kami seperti datar tanpa kedekatan emosi. Namun, ketika kami berjauhan, hati kami semakin dekat.  Pada saat tertentu seakan kami makin tak mau lewatkan tanpa  dirinya.  Begitupun dengan sahabatku.

                Kuingat benar, ketika sahabatku meninggalkan ibunya sendiri dengan pembatu.  Ibunya yang telah tua harus melakukan kegiataan sehari-hari bersama dengan pembantu. Tanpa bantuan orang lain.  Phisiknya yang makin lemah menyebabkan, ketergantungan kepada orang yang dapat merawat atau melihat kondisi kesehatannya.  Akulah, yang sering datang ke rumahnya.  Kulihat dan kuberikan bantuan seperlunya dan kuberi tahukan kepada sahabatku apa yang terjadi dengan ibunya.

                Namun, suatu hari ketika  kelemahan phisiknya sangat mengkuatirkan.  Aku segera menelpon dirinya.   Sarah segera menelpon kakaknya yang berada di luar kota untuk segera datang ke rumah ibunya dan memberikan pertolongan secepatnya.  Ternyata, ketika dokter datang, ibunya harus langsung dibawa ke rumah sakit.  Dalam kondisi kritis, berkali-kali sahabatku menyatakan kekuatiran dan ketakutan kehilangan ibunya. Aku selalu menghiburnya. Jika ada sesuatu yang sangat emergency, pasti aku akan tetap mendampingi ibunya.  Dia tak perlu kuatir dan takut.
 
                Nada suaranya sangat penuh penyesalan ketika akhirnya ibunya meninggal. Tanpa bisa menghadiri pemakaman karena waktunya yang tak cukup.  Sarah, sering menyesali apa yang tak bisa dilakukakannya untuk ibunya tercinta.   Aku selalu mengatakan kepadanya, tak seharusnya dia menyesali karena waktu ibunya berpulang adalah waktu yang telah ditentukan oleh PenciptaNya. Tak perlu menyesali diri karena tak bisa hadir .  Waktu dan ijin yang tak memungkinkan, bukan karena ia tak mau .   Berkali-kali kukatakan kepadanya tak perlu ada penyesalan. Bukan kesalahannya maupun kemauannya untuk tak hadir.

                Peristiwa itu makin membuat hubungan kami sebagai sahabat makin dekat.  Kedekatan hati kami untuk saling mengisi dan memberikan kekuataan ketika salah satu dari kami sedang lemah. Kami tak pernah saling menuding kesalahan kami ketika kami tahu sebenarya ada hal yang salah dalam menentukan sikap dan langkah kami.  Kami saling memberikan doa dan kekuataan dan berbagi pengalaman hidup jika ada sesuatu yang sangat menyakitkan terjadi pada kami.

                Sakit hati  atas tidak menerimanya kenyataan hidup bagaikan hal yang sangat menyakitkan bagi sahabatku.   Sahabatku, menganggap kesalahan itu pada dirinya. Sebenarnya bukan total kesalahan pribadinya tetapi  karena perubahan nilai dan budaya ,kultur yang tak dipahaminya.  Kesalahan akan dirinya selalu menghantui dirinya.  Membuat phisiknya melemah. Akhirnya, dia menderita berbagai macam penyakit.

                Dalam kelemahan phisik, saya selaku sahabat tak pernah meninggalkannya. Kuberikan apa yang tak pernah kualami, tetapi apa yang kupelajari . Tak boleh menyalahkan diri terus menerus. Bangkit dari keterpurukan adalah jalan keluar.  Doa untuk sahabatku selalu kulayangkan.

                Inilah arti seorang sahabat. Ketika aku juga terpuruk dalam pemikiran yang tak menentu. Aku akan datang kepadanya. Memohon agar dia dapat membantuku memberi kekuataan dalam spirit dan dukungan.  Ternyata ini dapat dibuktikan arti seorang sahabat.

                Bagiku seorang sahabat adalah seorang yang teruji dalam duka bukan hanya dalam suka saja. Dia penolong dan pendukung dan orang yang terbuka memberikan dukungan ketika kita dalam kesulitan.

                Marilah kita mencari  ,menemukan dan menjadi sahabat-sahabatsejati!